Revitalisasi Pelajar Untuk Pemajuan Zaman

20:07

Oleh : velandani prakoso
Ketua Bidang Perkaderan 2013-2015


Dunia pendidikan kita memang tragis, banyak institusi pendidikan di negeri ini yang hanya menjadi alat reproduksi generasi gagal yang gamang menjawab tantangan zaman, tidak lain itulah hasil dari pendidikan yang hanya mendasarkan penilaian pada deretan angka-angka.

Menelisik lebih dalam adalah pada saat mendekati ujung tahun pelajaran, yang mana para pelajar dari beribu sekolah menengah, bahkan juga mulai dari sekolah dasar merasakan aliran darah yang semakin kencang, detak jantung yang semakin cepat dan perasaan khawatir yang mencapai titik tertinggi.

Tidak hanya mereka, termasuk juga para orangtua akan mengalami hal yang sama, bahkan bisa jadi serangannya akan menjadi lebih hebat disbanding dengan yang dirasakan oleh anak-anaknya. Inilah dimana saatnya sekian tahun proses pembelajaran ditentukan kelulusannya oleh ujian nasional yang berlangsung hanya beberapa hari. Momentum yang sering kali dipersepsikan dengan wajah tak ramah ini bernama ujian nasional.

Pada dasarnya memang bagus adanya ujian nasional diterapkan, yang mungkin merupakan sebuah sarana yang dimaksudkan untuk memacu semangat belajar siswa, sebuah medium untuk meningkatkan kualitas kelulusan siswa.

Benang merah mungkin dapat terakumulasi dari pendidikan dalam perspektif politik, bahwa pendidikan itu sejatinya menghargai martabat dan pandangan hidup pelajar, untuk itu pendidikan diadaptasikan terhadap pandangan hidup dan kebutuhan pelajar serta masyaraktnya. Jika tidak, maka pendidikan tak ubahnya dengan bentuk invasi cultural atau proses dehumanisasi, yang memaksa pelajar dan masyarakat menjadi pasif dalam menerima bentuk pendidikan pengajaran yang ditekankan dari luar.
Dengan begitu pendidikan selalu bergandengan tangan dengan emansipasi politik. Jadi, ada pedagogi politik dan pedagogi emansipatoris, yang membentuk pelajar menjadi warga Negara yang bertanggung jawab secara moral dan susila. Untuk itu sebagai perwujudan bagaimana bentuk manifestasi politik dalam wacana pendidikan di Indonesia, mislanya adalah pola dan sistem politik pendidikannya telah diatur dalam UU No. 2 tahun 1989, yaitu:


  • Mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang selalu beriman, bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur
  •  Dengan memiliki pengetahuan, ketrampilam, kesehatan jasmani dan rohani
  • Berkepribadian mantap, mandiri, serta memiliki rasa tanggung jawab kepada kemasyarakatan dan kebangsaan di alam demokrasi
Pada kesempatan ini sengaja diketengahkan sebatas sistem pendidikan di Negara dengan sistem politik demokrasi dan totaliter, dianggap kedua sistem politik inilah yang paling ekstrim yang mewakili, sebenarnya masih banyak model pendidikan di Negara-negara yang berpaham politik, misalnya bagiamana pendidikan itu dilakukan di Negara komunis, otokratis, oligarkis, aristokartis, sampai kepada sistem politik Negara militerisme. Hanya saja karena bahasan dalam essay ini adalah bagaimana revitalisasi pelajar untuk pemajuan zaman, maka kedua sistem politik dalam melihat bagaimana pendidikan itu dilakukan, dinilai dan dapat dianggap telah mewakili dari gambaran sistem pendidikan di Indonesia saat ini.

Namun sesungguhnya pendidikan tidak pernah berdiri bebas tanpa berkaitan secara dialektis dengan lingkungan dan sistem social dimana pendidikan diselenggarakan. Oleh karena itu, proses pendidikan sebagai proses pembebasan tidak pernah terlepas dari sistem dan struktur social, yakni konteks social yang menjadi penyebab atau menyumbangkan proses dehumanisasi dan keterasingan pada waktu pendidikan diselenggarakan.

Dalam era globalisasi kapitalisme seperti saat ini, pendidikan dihadapkan pada tantangan, bagaimana mengkaitkan konteks analisis isinya untuk dapat memahami globalisasi secara krits. Strategi umumnya para pendidik lebih tertuju untuk bagaimana membuat proses belajar para pelajar relevan terhadap formasi social yang dominan saat ini, yakni globalisasi kapitalisme dan menguatnya neoliberalisme dalam dunia pendidikan. Strategi seperti ini lebih berkesan menerima dan mensiasati justru untuk penyesuaian terhadap globalisasi, sementara itu jarang proses belajar yang mengintegrasikan analisis globalisasi secara kritis dan bagaimana para pelajar dapat berperan dengan proses kritik dan melakukan dekonstruksi, untuk dapat menemukan solusi alternative terhadap globalisasi, sehingga dapat mendorong proses belajar menjadi peka terhadap persoalan ketidak adilan social di era globalisasi ini yang menimpa para pelajar khususnya.

Pada dasarnya perlu di setiap penyelenggaraan proses belajar secara otonom dengan menentukan visi dan misi sesuai dengan perkembangan zaman, bagaimana para pendidik memperjelas keberpihakan terhadap proses ketidak adailan social, serta bagaimana dapat diterjemahkan kesemua itu  untuk mampu diterapkan dalam metodologi dalam penyelenggaraan proses belajar. Persoalannya sekarang adalah pada penyelenggaran proses belajar selalu ditemukan kelemahan sekaligus kekuatannya, seringkali menjadi arena yang paling tidak terkontrol dan tidak termonitor. Sehingga diperlukan mekanisme yang memungkinkan pelajar dalam proses belajar sebgai subjek dan pusat kegiatan penyelenggaraan proses belajar dan konstitusi utama proses belajar.

Oleh karena itu orientasi untuk setiap pelajar untuk dapat mengahayati visi dan misi mereka, serta kesadaran kritis sangat diperlukan jiaka akan meletakkan para pelajar sebgai subjek dan pemonitor proses dan metode untuk transformasi sosial, tidak lain dan tidak bukan itu semua demi pemajuan zaman yang dilakukan oleh para pelajar.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments