MTs Muhammadiyah Karangkajen, Kita Harus Bagaimana?

00:09

Sempat geger di Kota Yogyakarta dan sekitarnya, beberapa waktu lalu MTs Muhammadiyah Karangkajen sebelum hari pertama masuk tahun 2016 akses masuknya ditutup (atau tertutup) oleh tembok belakang perumahan warga!

Beberapa dinamika sempat berjalan. Teman-teman AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah) Kota Yogyakarta sempat menggerakkan massa, merencanakan aksi pagi hari sebelum bel masuk sekolah. Ada pula teman-teman AMM dari luar kota yang "menawarkan bantuan", siap setiap saat jika sewaktu-waktu "kehadirannya dibutuhkan". Namun akhirnya anti klimaks, pagi hari sebelum muncul keramaian, sebelum teman-teman AMM Kota Yogyakarta tiba di lokasi tertutupnya akses masuk sekolah, ternyata salah satu kolom tembok telah tuntas diruntuhkan. Pagi-pagi suntuk jauh sebelum warga memulai aktifitas, Pak Haryadi Suyuti selaku Walikota Yogyakarta "membuka" akses siswa masuk sekolah.

Pasca-peruntuhan tembok

Walikota memimpin langsung
Sempat ada sebaran tulisan di media sosial. Yang pertama tanggal 3 Januari, sore/malam hari, tulisan ini cenderung membela MTs Muhammadiyah Karangkajen dan menyalahkan pihak perumahan. Yang kedua tanggal 4 Januari sore/malam hari, tulisan ini cenderung menyalahkan pihak MTs Muhammadiyah Karangkajen dan atau PDM Kota Yogyakarta. Kemunculan kedua tulisan tersebutlah yang menyebabkan kami memiliki keinginan kuat untuk mempublikasi satu tulisan khusus untuk kasus ini.

Salah satu publikasi yang cenderung keras

Tidak, penulis tidak akan memberikan klarifikasi panjang-lebar mengenai kasus ini, karena akan menyita tenaga dan waktu serta membuat permasalahan semakin berlarut-larut. Namun, jika dirasa perlu, pertanyaan bisa langsung diarahkan ke e-mail ipmjogja@gmail.com untuk klarifikasi lengkap dari kami (bahkan bersumber langsung dari Walikota Yogyakarta yang sempat kami temui secara langsung).

Titik permasalahan sebenarnya ada di sikap sekolah yang secara umum belum menimbulkan simpati dari warga secara menyeluruh. Karena itu timbul perasaan kurang nyaman dari sebagian warga yang kebetulan memiliki sentimen tertentu. Patut diingat, sikap sekolah bukan berarti terbatas hanya pihak sekolah (guru-guru), tapi juga meliputi siswa yang jumlahnya ratusan. Sudah pasti, peluang adanya sikap kurang baik yang muncul menjadi cukup besar. Karena teman-teman usia MTs pastinya banyak yang belum paham bagaimana bersikap dengan baik dalam pergaulan dengan masyarakat yang majemuk karakternya.

Mengandalkan pihak sekolah tentunya akan sulit, karena sekolah terkait dengan jalur-jalur formal yang cenderung kaku, pun hanya sebatas pada jam sekolah. Jalan terbaik adalah memunculkan kekuatan dan kesadaran dari dalam. Namun siswa hampir tidak mungkin memiliki kesadaran, karena terikat dengan sistem yang ada --tidak ada pengarahan khusus dalam pendidikan formal yang ada.

Jalan keluarnya, harus ada kekuatan dari dalam pelajar itu sendiri. Pada hal ini, IPM Kota Jogja khususnya dapat menjadi stimulan agar karakter baik pelajar tebentuk.

Mengapa harus seperti itu? Karena yang dibutuhkan memang pembentukan karakter baik pada pelajar. Agar nantinya warga merasa nyaman dengan keberadaan pelajar. Ketika rasa nyaman tercapai, tidak akan ada lagi kasus dimana sebagian dari warga tidak mendukung penuh kebutuhan akan berjalannya pembelajaran di sekolah.

Sebenarnya, jika sekolah lain memiliki keadaan lokasi seperti yang dialami MTs Muhammadiyah Karangkajen, kemungkinan juga akan mendapatkan perlakuan yang sama dari warga. Karena secara umum, karakter dari pelajar yang kurang baik pasti sedikit ataupun banyak akan membuat warga merasa kurang nyaman dengan keberadaan pelajar.

Pada kasus MTs Muhammadiyah Karangkajen tersebut di atas, sebelumnya PD IPM Kota Yogyakarta terkhusus Bidang Advokasi telah melakukan beberapa pendekatan untuk meningkatkan karakter baik pelajar dan juga peran aktif pelajar, agar ruang lingkup kegiatan pelajar tidak sekedar pada pendidikan formal --yang pada kenyataan saat ini cenderung monoton dan kaku. Munculnya kasus ini semakin memperlihatkan bahwa sudah saatnya pelajar memunculkan kekuatan untuk memperkuat karakter baik yang ada dalam pelajar.

IPM Kota Jogja berusaha untuk memulai langkah menguatkan karakter pelajar. Bukan terbatas karena ada ketidaknyamanan warga, tapi karena memang dunia membutuhkan baiknya karakter pelajar. Sudah saatnya pelajar tidak pasrah menjadi objek sistem yang ada, tapi juga menjadi subjek perbaikan sistem jika memang diperlukan. Pelajar, ayo bangun karakter baik, bersama-sama :)

  • Share:

You Might Also Like

3 comments